Berita Perpustakaan

YOGYAKARTA KOTA TRADISIONAL TERMUTAKHIR

Oleh DWI PRADNYAWAN

TATA RUANG KOTA TRADISIONAL: POLA CATUR TUNGGAL
Tata ruang kota terbentuk melalui berbagai macam unsur yang ada di dalam tata ruang. Itu bersifat fisik dan non-fisik, yang berupa beragam aspek seperti sosial, budaya, agama, ekonomi, atau politik.
Dalam kajian tata ruang kota modern, secara fisik kota memiliki elemen atau unsur-unsur yang membentuknya seperti jaringan jalan, bangunan dan tata bangunan, ruang terbuka, atau lingkungan (Yunus, 2012). Demikian halnya dengan kota tradisional juga memiliki unsur-unsur yang kurang lebih serupa, tetapi memiliki bentuk serta pola yang berbeda.


Kota tradisional di Jawa memperlihatkan suatu unsur bentuk yang dikenal sebagai Catur Tunggal (Four Compartement). Itu adalah empat bentuk yang merupakan satu kesatuan atau empat bentuk ruang yang berada dalam satu kawasan yang berdekatan (Ikaputra, 1995: 23-29). Unsur itu adalah kraton, alun-alun, masjid, dan pasar. Unsur ini terdapat di sebagian besar kota-kota tradisional di Jawa, khususnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Kota-kota tua di pesisir seperti Demak, Jepara, Tuban, Rembang, Pati, Banten, Cirebon kemudian Surakarta dan Yogyakarta, Banyumas, Purwokerto, Purworejo, Magelang, Temanggung hingga di wilayah Jawa Timur seperti Kediri, Blitar, Madiun, Malang, Madura, Lumajang dan masih banyak lainnya, memiliki bentuk dasar Catur Tunggal.


Komponen Catur Tunggal Kraton atau Kedaton merupakan tempat berdiamnya penguasa atau raja yang berarti merupakan pusat politik dan kekuasaan. Alun-alun adalah tempat publik berupa tanah lapang yang cukup luas sebagai tempat diadakannya suatu kegiatan. Masjid merupakan pusat keagamaan atau peribadatan. Adapun pasar merupakan pusat kegiatan ekonomi masyarakat.


Secara umum pola Catur Tunggal pun terlihat pada tata letaknya. Kraton hampir selalu berada di sebelah selatan sedangkan Alun-Alun berada di tengah. Masjid hampir selalu di barat (kecuali kota Jepara). Dan komponen pasar hampir selalu berada di utara (kecuali Jepara dan Lasem) (Ikaputra,1995: 23-25).


Dengan itu, pola Catur Tunggal selalu menandakan “pusat” dari sebuah wilayah atau kawasan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Kota-kota tradisional Jawa yang terbentuk pada masa awal Islam seperti Kota Demak (sebagai pusat Kerajaan Demak) dan Kotagede (sebagai pusat Kerajaan Mataram Islam paling awal) pun memperlihatkan adanya pola Catur Tunggal ini.


Bentuk dari pola Catur Tunggal ini masih dapat diamati hingga sekarang. Sementara yang telah hilang karena perubahan zaman, bentuknya masih terekam dari toponim atau nama-nama wilayah khusus yang masih dilafalkan hingga saat ini. Contoh kasus pada kota Kotagede di wilayah Yogyakarta.


Pola Catur Tunggal berkaitan dengan jaringan jalan, pemukiman dan juga lingkungan sebagai tata ruang yang mendukungnya. Jaringan jalan menjadi penghubung sekaligus pembatas ruang yang ada. Jika diamati secara seksama maka jaringan jalan pada kota tradisional Jawa berbentuk geometris atau simetri di mana terdapat perpaduan jalan yang melintang dan membujur. Selain empat komponen pokok di atas, perpaduan jalan yang simetris membentuk blok-blok yang menjadi ruang untuk permukiman. Pada kota-kota tradisonal komponen Catur Tunggal selalu dikelilingi oleh permukiman penduduk yang dicirikan dengan nama-nama tertentu terkait dengan beragam aspek.


Selain jalan dan permukiman, lingkungan menjadi unsur yang selalu berkaitan dengan komponen pokok Catur Tunggal. Unsur lingkungan tersebut adalah keberadaan air, atau lebih tepatnya adanya sungai. Kota tradisional Jawa selalu berdekatan dengan sungai, baik sungai kecil maupun besar. Air atau sungai menjadi komponen pendukung yang penting terutama bagi kelangsungan kehidupan masyarakat kota. Kota-kota pusat kerajaan seperti Demak, Pajang, Kotagede, Plered, Kartasura, Surakarta selalu berdekatan dengan air atau sungai, bahkan Kota Yogyakarta diapit oleh beberapa sungai.


YOGYAKARTA: KOTA TRADISIONAL JAWA MUTAKHIR.


Sebagai salah satu kota tradisional Jawa yang mengikuti pola Catur Tunggal, kraton, alun-alun, masjid dan pasar dapat ditemui pada pusat Kota Yogyakarta pada wilayah yang saling berdekatan. Pada gambar peta dibawah ini nampak pola Catur Tunggal yang nampak pada Kota Yogyakarta. Kotak berwarna biru menunjukkan Kraton Yogyakarta berada di sisi selatan, Kuning merupakan Alun-Alun berada di tengah, Hijau adalah Masjid Besar Yogyakarta berada di sisi barat, dan warna merah menunjukkan keberadaan pasar (Pasar Beringharjo) yang berada di wilayah paling utara.


Lebih lanjut, jika diamati secara mendalam, rupanya Kota Yogyakarta tidak saja memiliki desain dasar Catur Tunggal. Sultan Hamengku Buwana I sebagai pendiri dan peletak dasar Kota Yogyakarta merupakan raja sekaligus arsitek jenius yang juga mengembangkan Kota Yogyakarta ke tingkat paling mutakhir. Dengan segala kebijaksanaan, pengetahuan yang mendalam tentang agama dan warisan kebudayaan Jawa, Sultan HB I membangun Kota Yogyakarta dan menempatkannya ke titik tertinggi dalam sejarah perkembangan kota-kota tradisional di Jawa yang pernah ada.


Ditilik dari sejarah perkembangan kota tradisional yang berbasis pada konsep Catur Tunggal, Kota Yogyakarta mencapai tahap perkembangan ke-2. Kota tradisional tua dan kota-kota yang merupakan bagian dari kerajaan Mataram, Kasunanan, atau Kasultanan Yogyakarta merupakan kota-kota yang memperlihatkan kota dengan desain dasar Catur Tunggal, yakni empat komponen dasar.


Perkembangan ke-1, nampak dari keberadaan Kota Surakarta, sebagai ibukota dari Kerajaan Mataram Islam dan Kasunanan Surakarta kemudian. Perkembangan ini nampak dari adanya komponen baru, yakni adanya Alun-alun selatan yang letaknya berada di sebelah selatan dari Kompleks Kraton. Meskipun dalam catatan babad, kraton Kartasura (kraton kerajaan Mataram Islam sebelum pindah ke Surakarta) juga memiliki komponen alun-alun selatan, namun bukti-bukti keberadaannya belum ada hingga saat ini (Ikaputra, 1995: 26).


Perkembangan ke-2 nampak dari keberadaan Kota Yogyakarta sebagai ibukota Kasultanan Yogyakarta. Selain komponen alun-alun selatan, perkembangannya adalah penambahan Panggung Krapyak di sebelah selatan Alun-Alun Selatan dan Tugu Pal Putih yang berada di sebelah utara pasar. Keduanya menjadi titik yang menghubungkan “garis imaginer” (imaginary axis) yang melintasi pusat kota Yogyakarta.
Sumbu imaginer ini merupakan bentuk simbolik sarat dengan makna filosofis. Ia menghubungkan Kota Yogyakarta (Kraton) dengan dua kekuatan alam yang dashyat yakni lautan luas Samudra Indonesia pada sisi selatan dan Gunung Merapi di sisi utara.
Jika ditelaah lebih mendalam, keistimewaan Kota Yogyakarta dibandingkan dengan kota-kota lainnya selain evolusi komponen kota adalah letaknya yang memungkinkan kota ideal dibangun. Sultan Hamengku Buwana I secara sadar, diketahui dari beberapa kisah dari babad-babad, membangun kraton-nya sebagai pusat Kota Yogyakarta dengan letak yang memiliki bentang lahan istimewa, yakni diapit oleh dua sungai dan letaknya yang berada ditengah-tengah dua kekuataan alam raksasa lautan Samudra Indonesia dan Gunung Merapi. Kedua unsur alam ini dalam pengetahuan dan kepercayaan orang Jawa merupakan perwujudan kekuatan adikodrati yang dashyat.
Kotagede sebagai ibukota pertama Kerajaan Mataram Islam dan Plered sebagai ibukota paska Kotagede juga berada pada letak yang sama. Namun, keistimewaan Yogyakarta nampak dari kelengkapan komponen-komponen kotanya yang saling berkaitan satu sama lain dengan makna simbolik dan dasar falsafah yang jauh melampaui dari kota-kota sebelumnya (lihat gambar di halaman 27).


KOTA YOGYAKARTA KINI


Perubahan di Kota Yogyakarta telah terjadi sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda hingga saat ini. Meski begitu, itu tidak mengubah konsepsi dasar Kota Yogyakarta yang dibangun dengan konsep Catur Tunggal dan evolusinya menjadi kota tradisional Jawa termutakhir yang pernah ada.


Empat komponen dasar Catur Tunggal tetap eksis dan pada posisinya. Alun-alun Selatan serta keberadaan garis imaginer yang menghubungkan Laut Selatan–Panggung Krapyak–Kraton–Tugu Pal Putih–Gunung Merapi di utara, sebagai bentuk evolusi mutakhir kota tradisional Jawa masih terjaga keletakannya, tidak ada yang berubah keletakannya maupun keberadaan lokasinya.


Jaringan jalan-jalan yang membatasi dan menghubungkan antar komponen tata ruang kota pun secara umum masih serupa dengan Kota Yogyakarta masa lampau. Itu setidaknya tahun 1830-an, di mana terdapat peta Kota Yogyakarta buatan Hindia-Belanda. Memang terdapat perkembangan dan perubahan pada jaringan jalan, namun tidak berdampak pada keutuhan Catur Tunggal dan garis imaginer kota.
Perubahan yang signifikan adalah perkembangan dan perubahan tata bangunan yang ada. Pertumbuhan demografi yang signifikan pada Kota Yogyakarta sejak masa awal hingga saat ini tentunya menjadi penyebab banyaknya perubahan tata bangunan yang ada. Pada saat Kota Yogyakarta (Kraton dan lingkungan sekitarnya) dibangun, penduduknya pun belum terlampau padat hingga lingkungan dan ruang kosong di Kota Yogyakarta masih terbilang masih lebih hijau dan lapang. Berbeda semenjak pasca-kemerdekaan hingga saat ini, dengan pertumbuhan penduduk yang sangat pesat menyebabkan pertumbuhan permukiman yang semakin padat mengisi ruang-ruang kosong pada tata ruang Kota Yogyakarta, khususnya lingkungan di sekitar komponen Catur Tunggal dan garis imaginer.
Hal ini tentunya sangat membanggakan karena “wajah asli” yang merupakan wujud dari sejarah perkembangan kota tradisional Jawa, masih tetap eksis hingga saat ini. Harapannya di tengah perkembangan Kota Yogyakarta yang semakin metropolis dan gencar melakukan pembangunan, tentunya tidak “merusak” desain dasar Kota Yogyakarta yang tercipta dari keluhuran pengetahuan budaya dan kepercayaan Jawa yang sarat dengan makna simbolik dan filosofis yang amat dalam dengan selalu menjaga keharmonian antara alam fana dan alam adikodrati, antar manusia dan dengan alam serta Tuhan. Yogyakarta adalah kota yang istimewa.

REFERENSI


Adrisijanti, Inajati. 2000. Arkeologi Perkotaan Mataram Islam. Penerbit Jendela, Yogyakarta.

Anonim. 2008. Dari Kabanaran menuju Yogyakarta: Sejarah Hari Jadi Kota Yogyakarta. Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kota Yogyakarta.

Heryanto, Mas Fredy. 2009. Mengenal Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Penerbit Warna Grafika, Yogyakarta.


Ikaputra, 1995. A Study on the Contemporary Utilization of the Javanase Urban Heritage and its Effect on Historicity: An Attempt to Introduce the Cpntextual Adaptability into the Preservation of Historic Enviroment of Yogyakarta. The Course of Enviromental

Engineering Graduate School of Engineering Osaka University, Japan.


Kusuma Wardani, Laksmi. 2012. “Planologi Keraton Yogyakarta” Artikel dalam Seminar Archaeology Art and Identity. Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Woodward, Mark R. 2004. Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan. Lkis Yogyakarta.


Yunus, Hadi Sabari. 2012. Struktur Tata Ruang Kota. Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Site Statistics
  • Today's visitors: 6
  • Today's page views: : 9
  • Total visitors : 1,446
  • Total page views: 2,030