Berita Perpustakaan

KEPEL, STELECHOCARPUS BURAHOL

Tanaman kepel berbentuk pohon berkayu (Gb1a). Menurut Lim (2011) bunga betina muncul pada batang (cauliflorous),berdiameter ± 30 mm, putik halus, kuning,daun kelopak(sepal) kecil tumpul berukuran 1-1,5 mm, daun mahkota (petal)  masing-masing berisi 3 helai berukuran ±10 mm (Gb.1d). Bunga jantan muncul pada cabang dan ranting (ramiflorous), berdiameter 10-15 mm, kepala sari banyak menempel pada reseptakel,  daun kelopak (sepal) kecil tumpul berukuran 1-1,5 mm, daun mahkota (petal)  tersusun dalam 2 lingkaran masing-masing berisi 3 helai berukuran 7-8 mm (Gb. 1c,e).

Tanaman kepel berumur ± 8 tahun
bunga jantan muncul pada daerah cabang dan ranting
karpel (1) dan stamen (2), mahkota dilepaskan dari tangkai (dokumentasi pribadi)
daun kepel muda berwarna merah muda dan yang tua berwarna hijau
bunga betina muncul pada daerah batang dan cabang utama

Kepel dapat ditemukan di Asia Tenggara, meliputi Malaysia, Indonesia hingga kepulauan Solomon. Untuk Philipina dan Australia mulai diperkenalkan untuk ditanam. Di Indonesia tanaman kepel dapat ditemukan di daerah Bande Alit, Taman Nasional Meru Betiri Jawa Timur. Tanaman kepel ditemukan pada ketinggian 75 m hingga 265 m dpl, tanaman kepel lebih banyak ditemukan pada 150 m hingga 300 m dpl (Backer & Bakhuizen, 1963; Heyne, 1987; Mogea, 2001). Stelechocarpus burahol (Blume.) Hook. f. & Thomson dikenal dengan nama lokal Indonesia yaitu: kepel, kecindul, simpol, cindul (Jawa), burahol, turalak (Sunda Tanaman kepeljuga dapat ditemukan di berbagai taman nasional seperti Kebun Raya Bogor, Taman Sringanis Bogor (dalam bentuk spesimen biji), Kawasan Kecamatan Borobudur Magelang Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (Umiyah, 2005).

Menurut Umiyah (2005), di Taman Nasional Bande Alit Merubetiri, bunga kepel dapat ditemukan di bulan Juni dalam berbagai fase bunga mulai dari yang kuncup hingga yang sudah antesis. Di Yogyakarta bunga jantan dan betina dapat ditemukan mulai bulan Juni dan paling banyak dijumpai bulan Oktober – November dan buah muda dapat ditemukan di bulan Februari-Maret. Bunga betina dapat ditemukan sepanjang tahun.

Pembentukan dinding setelah pembelahan meiosis dapat terjadi secara suksesif atau secara simultan (Bhojwani & Bhatnagar, 1999). Struktur serbuk sari memiliki bermacam-macam tipe apertura, dan ornamentasi. Ukuran dan bentuk serbuk sari dari setiap tanaman juga bersifat unik (Ertdman, 1943; Faegri & Iversen, 1989). Pada famili Annonaceae ditemukan bermacam-macam bentuk serbuk sari dengan tipe apertura dan ornamentasi yang bervariasi (Xu & Craene,  2013).

Faktor internal yang mempengaruhi viabilitas serbuk sari antara lain genetik, kondisi fisiologi dan struktur serbuk sari. Faktor eksternal yang mempengaruhi viabilitas serbuk sari selama penyimpanan antara lain kelembaban, suhu, kandungan oksigen, dan tekanan atmorfer. Pada umumnya  serbuk sari memiliki viabilitas yang lebih baik pada penyimpanan dengan suhu rendah dan kelembaban rendah. Penyimpanan serbuk sari dilakukan untuk menyediakan serbuk sari yang digunakan untuk polinasi buatan (Stanley & Linskens, 1974).

Daftar Pustaka

Backer CA, & Bakhuizen van den Brink Jr. RC, 1963. Flora of Java (Spermatophytes only). Vol. I. N.V.P. Netherlands: Noordhoff – Groningen. pp : 101-102

Bhojwani, S.S & Bhatnagar, S.P., 1999. The Embryology of Angiosperms 4th Revised & Enlarged Ed.Vikas Publishing House PVT LTD, New Delhi.

Chaowasku, T. & Van Der Ham, R. W.J.M. 2013. Integrative systematics supports the establishment of Winitia, a new genus of Annonaceae (Malmeoideae, Miliuseae) allied to Stelechocarpus and Sagerae.  Systematics and Biodiversity, 11(2): 195–207

Darusman, H.S., Rahminiwati, M., Sadiah, Batubara, S., I., Darusman, L.K. and Mitsunaga, T., 2012. Indonesian Kepel Fruit (Stelechocarpus burahol) as Oral Deodorant. Research Journal of Medicinal Plant. 6: 180-188.

Ertdman, G. 1943. An Introduction To Pollen Analysis. Chronica Botanica Company of Waltham, Mass., U. S. A. pp. 43-55

Ertdman, G.1952. Pollen Morphology and plant taxonomy Angiosperms. An introduction to the study of pollen grainss and spores.  E. J. Bril,  Leiden, The   Netherlands. pp. 6-18

Faegri, K & Iversen, J. 1989. Textbook of Pollen Analysis. Jhon Wiley & Sons Ltd. Denmark. pp. 209-240

Heyne K, 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid II. Badan Litbang Kehutanan Jakarta. Penerbit Yayasan Sarana Wana Jaya. Jakarta. pp. 101-102

Lim, T.K. 2011. Edible Medicinal and Non-Medicinal Plants Volume 1, Fruits. Springer Dordrecht Heidelberg London New York page:227-230

Mogea JP, Gandawidjaja D., Wiriadinata, H, Nasution, R. E., Irawati. 2001. Tumbuhan Langka Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. pp. 71.

Stanley R.G., & Linskens H.F. 1974. Pollen Biology Biochemistry Management . Springer-Verlag  Berlin Heidelberg:. pp: 56-66.

Tisnadjaja D., Saliman E., Silvia, Simanjuntak P., 2006. Pengkajian Burahol (Stelechocarpus Burahol (Blume) Hook. f. & Thomson) Sebagai Buah Yang Memiliki Kandungan Senyawa Antioksidan. Biodiversitas Volume 7, Nomor 2 April 2006 Halaman: 199-202.

Umiyah. 2005. Existence Of Stelechocarpus burahol (Blume.) Hook. f. & Th. In Wilderness Zone, Bande Alit Resort, Meru Betiri National Park. Berk. Penel. Hayati: 10 (85–88)

Xu, F.,  & de Craene, L.P.R. 2013. Pollen Morphology and Ultrastructure of Selected Species From Annonaceae. Plant Syst Evol (2013) 299:11–24.

Site Statistics
  • Today's visitors: 6
  • Today's page views: : 9
  • Total visitors : 1,446
  • Total page views: 2,030